Wakil Ketua Komisi I Mengingatkan Potensi Bahaya Di Dalam Permainan Pokemon Go

Potensi Bahaya Dalam Permainan Pokemon Go

T.B. Hasanuddin – Wakil Ketua Komisi I DPR-RI – mengingatkan adanya potensi bahaya di dalam permainan Pokemon GO yang saat ini sudah ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Hal ini dikatakan oleh Hassanddin karena di dalam game ini ada pola real time dan real location yang bisa saja dimanfaatkan oleh pihak lain.

Jika aplikasi game ini diluncurkan di Indonesia maka bisa dimanfaatkan sebagai mekanisme penjejak oleh sistem aximuth rocket launcher.

Selain itu permainan ini dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat untuk menjebak korban dalam melakukan kejahatan.

Berikut ini beberapa hal mengenai potensi bahaya di dalam permainan Pokemon GO yang disampaikan oleh Hassanudin:

1. Pergerakan dari satu titik ke titik lain

Pokemon GO akan membaca pola pergerakan dari satu titik ke titik lain.

Jadi dalam bidang pencarian data, lokasi dikenal sebagai recection dan intersection. Di dalam bidang pencarian data, lokasi dikenal sebagai recection dan intersection.

Contohnya recection. Anda berada di jarak tertentu, kemudian dikasih senter dan sampai ke muka anda. Ada pancaran tenaga. Tinggal dilihat arahnya berapa, jaraknya berapa derajat, dengan dua dimensi itu saja, sudah diketahui posisi Anda,

Baca juga: Pada Tahun 2020, Setengah Dari Penduduk Dunia Akan Menggunakan Internet Melalui Ponsel

2. Intersection

Dalam bidang pencarian data ada istilah intersection yang dianalogikan sebagai rumus perhitungan melalui titik persimpangan matematis.

Anda di sebuah tempat, kemudian dari titik A ke titik B. Dari titik A ditembakkan ke Anda, lalu dari titik B juga. Lalu dilihat berapa derajat dari masing-masing titik, perpotongannya adalah posisi Anda. Itu bisa diaplikasikan di dunia mana saja, termasuk geospasial, penginderaan jarak jauh.

Para pejabat negara di dalam dan luar negeri telah mengingatkan agar Pokemon Go tidak dimainkan di wilayah-wilayah tertentu yang penting secara kenegaraan, termasuk untuk para prajurit yang sedang menjalankan dinas.

Secara umum, Pokemon Go memang memanfaatkan teknologi peta digital dan GPS untuk menandai sebuah tempat sebagai Pokestop (tempat untuk mendapat peralatan menangkap dan melatih monster) juga Pokemon Gym (tempat untuk monster bertarung). Dengan teknologi yang sama game ini bisa mengetahui lokasi penggunanya.

Sementara fitur kamera ponsel bisa diaktifkan dalam modus augmented reality ketika sedang menangkap monster. Tapi, fitur ini masih mungkin untuk dimatikan sehingga pengguna tak memakai fitur kamera saat menangkap monster.

Sejumlah negara Timur Tengah telah mengungkap kewaspadaan terhadap game ini. Kementerian Dalam Negeri Kuwait, meminta, pengguna harus menahan diri untuk mengarahkan kamera ponsel saat menangkap Pokemon di lokasi penting seperti depan istana, masjid, fasilitas minyak, dan pangkalan militer.

Wakil Menteri Dalam Negeri Kuwait, Suleiman al-Fahd menegaskan, permainan ini berbahaya karena melibatkan pemanfaatan kamera dalam jarak yang dekat pada sebuah objek. Ponsel pintar pengguna disebutnya mentransfer gambar pada situs milik pihak ketiga.

Baca Juga: Inilah Akibat Bermain Pokemon GO Sambil Mengemudikan Mobil. Menabrak Pohon!!!

Saat ini Pokemon Go yang dikembangkan Niantic, Pokemon Company, dan Nintendo, baru hadir secara resmi di lima negara yaitu Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Jerman, dan Inggris. Ia dijanjikan hadir dalam waktu dekat di kawasan Asia.

Kendati belum hadir di kawasan Timur Tengah, Reuters melaporkan sudah ada warga di sana yang memainkan Pokemon Go dengan usaha mengunduh aplikasi dari sumber lain.

Regulator telekomunikasi Uni Emirat Arab, Telecommunications Regulatory Authority (TRA), mengimbau para warga untuk menunggu peluncuran resminya di negara itu agar terhindar dari potensi bahaya di dalam permainan Pokemon Go seperti tindakan “pelanggaran privasi pengguna.”

“Penjahat siber bisa menyebar program jahat yang menyamar sebagai aplikas ini. Memakainya sebelum rilis di toko aplikasi, bisa merusak sistem operasi atau bisa juga memata-matai pemiliknya,” tulis pernyataan resmi TRA.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *