Maman Imanulhaq: Penggunaan Pengeras Suara Di Tempat Ibadah Perlu Diatur Untuk Mencegah Konflik

Penggunaan Pengeras Suara Di Tempat Ibadah Perlu Diatur

Untuk mencegah kerusuhan yang terjadi di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara (29 Juli 2016) terulang di tempat lain, maka wacana pengaturan terhadap penggunaan pengeras suara di tempat ibadah mencuat lagi.

Menurut Maman Imanulhaq – anggota Komisi VIII DPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa – mengatakan karena kerap memicu dan menimbulkan gesekan di tengah masyarakat, maka penggunaan pengeras suara di tempat ibadah perlu diatur.

Maman menambahkan kalau wacana ini tidak boleh dianggap sepele, karena banyak kasus serupa itu jadi pemicu gesekan sosial serius. Diperlukan pengaturan agar tidak ada lagi konflik di kemudian hari disebabkan persoalan itu.

BACA JUGA: Freddy Budiman Mengaku Sudah Memberi Uang 450 Miliar Ke BNN Sebagai Uang Setor

Maman memandang, kegiatan keagamaan umat manapun mestinya tidak dilakukan secara berlebihan. Seperti penggunaan pengeras suara yang mungkin dapat mengganggu pihak lain. Bahkan, dalam Instruksi Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nomor KEP/D/101/1978 telah diatur soal penggunaan pengeras suara ke luar. Yakni tidak meninggikan suara berakibat pada hilangnya simpati pihak lain dan hanya berlaku buat panggilan azan.

Sedangkan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya, seperti doa dan khutbah, hanya dibolehkan menggunakan pengeras suara ke dalam.

Maman menyebutkan kalau mengeraskan panggilan azan jangan sampai hanya menimbulkan ‘polusi udara’, yang justru mendatangkan antipati dari umat agama lain. Sebaiknya, panggilan azan dilakukan oleh muadzin yang memiliki suara merdu dan dengan menggunakan pengeras suara secara tidak berlebihan.

Instruksi Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nomor KEP/D/101/1978 kurang disosialisasikan ke masyarakat dan Maman mengharapkan agar pengaturan penggunaan pengeras suara di tempat ibadah harus dirumuskan ke dalam peraturan yang lebih tinggi dan ditegakkan lebih tegas.

Namun kuncinya adalah aturan apapun tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan, tanpa ada rasa saling memahami, menghargai, dan menghormati antar pemeluk agama sebagai dasar toleransi.

sumber: merdeka.com

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *