Berhati-hatilah Terhadap 7 Tren Kecantikan yang Membahayakan Kesehatan Ini

Berhati-hatilah Terhadap 7 Tren Kecantikan yang Membahayakan Kesehatan

Sepanjang sejarah, wanita dan pria selalu melakukan berbagai cara untuk memperbaiki kecantikan dan penampilannya. Tak jarang mereka sampai mengorbankan kondisi kesehatannya. Mengutip Live Science, berikut adalah tujuh tren kecantikan yang sebaiknya dihindari karena berbahaya untuk kesehatan.

1. Skin tanning

Skin tanning adalah proses penggelapan kulit. Remaja di Amerika Serikat melakukan skin tanning di dalam ruangan menggunakan lampu yang menghasilkan radiasi ultraviolet dan dapat merusak kulit, menyebabkan penuaan dini pada kulit, luka bakar, kerusakan mata, dan kanker kulit.

Hampir 28 juta orang di Amerika Serikat melakukan skin tanning setiap tahunnya, menurut American Academy of Dermatology, dari jumlah tersebut, 2,3 juta adalah remaja. Selain itu, paparan sinar ultraviolet yang terlalu sering dapat menyebabkan kecanduan skin tanning.

Sebuah studi 2010 di jurnal Clinical and Experimental Dermatology menemukan bahwa perempuan yang mulai melakukan tren kecantikan skin tanning pada usia yang lebih muda mungkin sangat rentan dan lebih kompulsif terhadap skin tanning.

2. Kepang

Tren kecantikan kepang atau membuat rambut gimbal dapat menyebabkan rambut rontok permanen pada wanita Afrika-Amerika, menurut sebuah penelitian pada 2011 yang dipublikasikan di Archives of Dermatology. Jenis kerontokan rambut ini disebut alopecia sikatrik sentral sentrifugal, terjadi pada mahkota dan bisa menyebar ke seluruh kulit kepala.

Periset mensurvei 326 wanita Afrika-Amerika tentang sejarah keluarga dan medis mereka, serta kebiasaan menata rambut mereka. Dermatolog kemudian melakukan pemeriksaan kulit kepala untuk menilai rambut rontok wanita. Mereka menemukan bahwa hampir 60 persen wanita menunjukkan tanda-tanda rambut rontok.

Kepang kecil-kecil merupakan tatanan rambut yang umum di komunitas Afrika-Amerika, kata periset. Perawatannya bisa mahal, jadi bisa dibiarkan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

3. Tato

Jumlah tato pada seseorang berkaitan dengan peningkatan risiko Hepatitis C, menurut sebuah penelitian di 2010. Apalagi jika jarum yang digunakan untuk membuat tato terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi.

Hepatitis C disebabkan oleh virus yang menyerang dan menimbulkan peradangan pada hati, yang dapat menyebabkan sirosis atau jaringan parut, jaringan hati, kanker hati, dan gagal hati, begitu menurut Mayo Clinic. Orang yang bertato juga rentan terhadap infeksi kulit, menyebabkan kemerahan, bengkak, dan nyeri. Apalagi pewarna tato yang berwarna merah, hijau, kuning, dan biru bisa menyebabkan reaksi alergi pada kulit, seperti ruam gatal di kulit yang ditato.

Cara Mendapatkan Uang Dari Bisnis Online Dengan Belajar Di Kursus Internet Marketing Terbaik Di Indonesia

4. Botoks

Tren kecantikan botoks digemari untuk memperbaiki kerutan pada wajah. Botoks merupakan bentuk obat toksin botulinum tipe A, yang dapat melemaskan otot selama beberapa bulan. Racunnya diproduksi oleh Clostridium botulinum, bakteri penyebab botulisme, penyakit langka namun serius. Meski suntikan pada umumnya aman, efek samping dan komplikasi bisa terjadi, termasuk rasa sakit dan memar di tempat suntikan, sakit kepala, mual, dan lemah otot sementara.

Pada 2009, Food and Drug Administration Amerika Serikat (FDA) menyetujui Botoks untuk penggunaan kosmetik namun dengan label peringatan yang menyatakan adanya risiko toksin menyebar ke area lain di tubuh, menyebabkan gejala mirip dengan botulisme, termasuk kesulitan menelan dan bernafas, bahkan kematian. Tapi gejala ini sebagian besar telah dilaporkan pada anak-anak dengan cerebral palsy, yang diobati dengan Botoks karena spasifikasi otot, penggunaan obat yang belum disetujui oleh FDA.

5. Lensa kontak yang melebarkan mata

Lensa lingkaran, yaitu lensa kontak yang membuat mata tampak lebih besar, bisa menimbulkan masalah penglihatan yang serius, menurut beberapa ahli.

“Konsumen berisiko mengalami cedera mata yang signifikan, bahkan kebutaan, saat mereka membeli lensa kontak tanpa resep atau bantuan yang benar dari seorang profesional mata,” kata Karen Riley, seorang pejabat Food and Drug Administration di Amerika Serikat.

6. Krim pemutih kulit

Beberapa produk kosmetik, termasuk krim pencerah kulit, mengandung kadar merkuri tinggi, begitu menurut FDA. Merkuri digunakan dalam krim pencerah kulit karena menghambat produksi pigmen melanin kulit. Tingkat merkuri yang tinggi juga dapat ditemukan di beberapa produk sabun, losion, dan anti-penuaan yang diproduksi di luar negeri dan dijual secara ilegal di Amerika Serikat.

“Paparan merkuri dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang serius,” kata Charles Lee, M.D., seorang penasihat medis senior di FDA. Merkuri dapat merusak ginjal dan sistem saraf, mengganggu perkembangan otak pada anak yang belum lahir, dan anak-anak yang masih kecil.

7. Produk pelurus rambut

Tren kecantikan produk pelurus rambut tertentu, yang mengandung formadehida, sangat berbahaya. Formaldehida adalah gas berbau kuat yang bisa mengiritasi mata dan hidung, serta menyebabkan reaksi alergi jika terhirup, misalnya masalah pernapasan seperti asma, ruam kulit, dan gatal.

Faktanya, Occupational Safety and Health Administration (OSHA) Amerika Serikat mengeluarkan peringatan bahaya pada April 2011 kepada pemilik salon rambut dan pekerja tentang risiko paparan formaldehida saat menggunakan produk ini. Ratusan salon kecantikan menawarkan perawatan pelurusan rambut, yang sangat populer meski harganya bisa mencapai USD 500 atau sekitar Rp 6,7 juta.

BACA JUGA:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

porno izleücretsiz porno
Diyarbakır escort instagram takipci hilesi ataşehir escort